Banyak Keluarga Masih Memilih Kontrak Rumah, Padahal Cicilan KPR Subsidi Bisa Lebih Murah
Kenaikan biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir membuat banyak keluarga harus berpikir ulang dalam mengatur pengeluaran bulanan. Salah satu pos pengeluaran yang terus meningkat adalah biaya sewa rumah atau kontrakan, terutama di kawasan penyangga kota besar seperti Tangerang, Bogor, Bekasi, Bandung, Semarang, dan Surabaya.
Yang mengejutkan, sejumlah pengamat properti menilai bahwa biaya sewa rumah sederhana saat ini di beberapa daerah sudah mendekati bahkan hampir setara dengan cicilan rumah subsidi melalui program Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan penting bagi masyarakat berpenghasilan rendah dan keluarga muda: lebih baik terus menyewa rumah atau mulai mempertimbangkan membeli rumah subsidi?
Biaya Kontrak Terus Naik, Aset Tetap Nol
Berdasarkan tren yang banyak diberitakan media properti nasional, harga sewa rumah mengalami kenaikan seiring meningkatnya harga tanah, biaya pembangunan, dan permintaan hunian.
Di sejumlah wilayah pinggiran kota besar, biaya kontrakan sederhana kini berkisar antara Rp800 ribu hingga Rp2 juta per bulan, tergantung lokasi dan kondisi bangunan.
Di sisi lain, cicilan rumah subsidi melalui skema FLPP umumnya berada pada kisaran yang tidak jauh berbeda, tergantung harga rumah, tenor, dan ketentuan bank penyalur.
Perbedaan paling mendasar adalah hasil akhir yang diperoleh.
Saat menyewa rumah, uang yang dibayarkan setiap bulan menjadi biaya konsumtif. Setelah masa kontrak berakhir, penyewa tidak memiliki aset yang dapat dimanfaatkan atau diwariskan.
Sebaliknya, pembayaran cicilan rumah subsidi secara bertahap membangun kepemilikan atas sebuah properti yang berpotensi meningkat nilainya di masa depan.
Mengapa Banyak Orang Masih Menunda Membeli Rumah?
Meski cicilan rumah subsidi relatif terjangkau, banyak masyarakat masih ragu untuk mengajukan KPR.
Beberapa alasan yang sering muncul antara lain:
- Menganggap proses KPR rumit.
- Khawatir pengajuan ditolak bank.
- Belum memiliki tabungan yang cukup.
- Takut terbebani cicilan jangka panjang.
- Mengira rumah subsidi selalu jauh dari pusat aktivitas.
Padahal, berbagai program pemerintah saat ini dirancang untuk membantu masyarakat berpenghasilan rendah memiliki rumah pertama dengan syarat yang lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu.
Perbandingan: Kontrak Rumah vs Cicilan Rumah Subsidi
Mari lihat ilustrasi sederhana.
Misalnya sebuah keluarga mengeluarkan biaya kontrakan sebesar Rp1,2 juta per bulan.
Dalam satu tahun:
Rp1,2 juta x 12 bulan = Rp14,4 juta
Dalam 10 tahun:
Rp14,4 juta x 10 tahun = Rp144 juta
Dana tersebut habis sebagai biaya sewa tanpa menghasilkan kepemilikan aset.
Sementara pada periode yang sama, cicilan rumah subsidi yang besarnya tidak jauh berbeda akan menghasilkan kepemilikan rumah yang nilainya berpotensi meningkat seiring perkembangan kawasan.
Inilah alasan mengapa banyak pengamat properti menyebut rumah subsidi sebagai salah satu instrumen kepemilikan aset yang paling realistis bagi keluarga muda.
Solusi Agar Tidak Terus Terjebak Biaya Kontrak
Bagi masyarakat yang saat ini masih menyewa rumah, terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mulai mempersiapkan pembelian rumah subsidi.
1. Periksa Riwayat Kredit di SLIK OJK
Pastikan tidak memiliki tunggakan pinjaman atau catatan kredit bermasalah yang dapat menghambat persetujuan KPR.
2. Mulai Menyisihkan Dana untuk Persiapan KPR
Meskipun uang muka rumah subsidi relatif ringan, calon pembeli tetap perlu menyiapkan biaya administrasi dan kebutuhan pendukung lainnya.
3. Cari Lokasi yang Sesuai Aktivitas Harian
Jangan hanya terpaku pada harga murah. Pertimbangkan akses transportasi, fasilitas umum, dan potensi perkembangan kawasan.
4. Manfaatkan Program FLPP
Program FLPP menawarkan sejumlah keuntungan seperti:
- Bunga tetap rendah.
- Cicilan stabil.
- Tenor panjang.
- Uang muka terjangkau.
- Perlindungan dari kenaikan suku bunga pasar.
Keuntungan Memiliki Rumah Subsidi Dibanding Terus Menyewa
Selain menjadi tempat tinggal, rumah subsidi juga memiliki sejumlah manfaat jangka panjang.
Membangun Aset Keluarga
Setiap cicilan yang dibayarkan menjadi bagian dari proses kepemilikan rumah.
Potensi Kenaikan Nilai Properti
Banyak kawasan rumah subsidi mengalami peningkatan harga setelah infrastruktur dan fasilitas pendukung berkembang.
Stabilitas Biaya Hunian
Berbeda dengan kontrakan yang sewanya dapat naik setiap tahun, cicilan KPR subsidi umumnya tetap sesuai ketentuan kredit.
Memberikan Kepastian Tempat Tinggal
Pemilik rumah tidak perlu khawatir kontrak habis atau diminta pindah oleh pemilik properti.
Risiko Jika Terus Menunda
Menunda pembelian rumah juga memiliki konsekuensi yang perlu dipertimbangkan.
Beberapa risiko yang sering terjadi antara lain:
- Harga rumah terus meningkat setiap tahun.
- Kuota rumah subsidi dapat terbatas.
- Biaya sewa semakin mahal.
- Kesempatan memperoleh rumah dengan cicilan terjangkau semakin berkurang.
Akibatnya, masyarakat harus mengeluarkan biaya hunian yang lebih besar di masa depan untuk mendapatkan rumah yang sama.
Kesimpulan
Fenomena naiknya biaya sewa rumah membuat perbandingan antara kontrak dan membeli rumah subsidi semakin relevan untuk dipertimbangkan. Di banyak daerah, biaya kontrakan kini sudah mendekati cicilan rumah subsidi yang ditawarkan melalui program pemerintah.
Perbedaannya sangat jelas: uang sewa habis setiap bulan tanpa menghasilkan aset, sedangkan cicilan rumah subsidi menjadi investasi kepemilikan hunian yang dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.
Bagi keluarga muda dan masyarakat berpenghasilan rendah, kondisi ini menjadi momentum yang tepat untuk mulai mengevaluasi pilihan hunian. Dengan perencanaan keuangan yang baik dan memanfaatkan program FLPP, impian memiliki rumah sendiri kini semakin realistis untuk diwujudkan daripada terus mengalokasikan dana untuk biaya sewa yang terus meningkat.
